Search

Selasa, 27 Oktober 2015

STOP Menggunakan Kalimat "Semua Akan Indah Pada Waktunya"

Stop Menggunakan Kalimat:

"Semua Akan Indah Pada Waktunya"

Sebuah kalimat yang sering sekali kita dengar, kalimat yang kesannya romantis dan penuh harapan, atau juga kalimat untuk menghibur diri yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan tepat pada waktunya.
Gambar Ilustrasi by Bang Jack
Tapi kita sebagai seorang muslim harus berhenti menggunakan kalimat tersebut.
Mengapa? Apa alasannya ?
Karena kalimat tersebut merupakan kutipan ayat bibel, tepatnya Pengkhotbah 3 ayat 11.
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberikan kekekalan dalam hati mereka...
Bahkan kalimat "indah pada waktunya" menjadi syi'ar agama nashrani yang dinyanyikan dalam berbagai versi lagu rohani.
Ingat sabda Nabi Muhammad SAW
"sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah yang ada pada umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya pula.
"Ketika para Sahabatnya bertanya, 'wahai Rasululloh, apakah mereka Yahudi dan Nashrani?"
Beliau menjawab, 'jika bukan mereka, siapa lagi?'"(Muttafaqun'alaih)

Maka dari itu, berhentilah memakai kalimat tersebut. Jika kita belum mendapatkan sesuatu yang kita inginkan maka lebih baik katakan "Alhamdulillah 'Ala Kulli Haal" yang artinya "segala puji bagi Allah atas segala sesuatu."

Semoga bermanfaat Sobat.
Silakan di share agar yang lain juga tahu akan hal ini.

Jumat, 23 Oktober 2015

Renungan Kecil Di Hari Jum'at

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sahabat...

Banyak yang mengatakan bahwa hari Jum’at merupakan hari istimewa bagi ummat Islam. Karena di hari Jum’at tersebut banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah apalagi tentang penciptaan alam ini. Sehingga kenapa, hari Jum’at begitu istimewa. Dan itulah sebabnya,mengapa setiap hari Jum’at setiap muslim di wajibkan untuk melaksanakan sholat Jum’at,salah satu point dari hikmahnya adalah untuk me-recharge kembali segala amal dan ibadah di hari tersebut.

Bahkan,Qur’an pun terdapat surat Al-jum’ah. Yang pada salah satu ayatnya terdapat perintah untuk melaksanakan Sholat Jum’at tersebut. Dan tak henti-hentinya di setiap khutbah yang di dengarkan,sang khatib selalu memberikan wasiat-wasiatnya yang sangat berharga. Apakah itu?Wasiat untuk selalu bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'alla dengan sebenar-benarnya taqwa,melaksanakan amal ma’ruf nahi munkar, agar predikat muttaqin dapat di raih. Untuk mendapatkannya pun butuh proses yang tidak sebentar. Harus banyak melewati onak dan duri,karena itulah hakikatnya menjadi seorang mukmin, ujian yang datang kepada kita merupakan sebuah proses demi masa depan yang memang kita tidak tahu bagaimana terjadinya. Akan tetapi,sejak saat inilah kita persiapakan semua dengan sebaik-baiknya persiapan.

Kesabaran dan Keikhlasan sangat berhubungan erat antar keduanya, oleh karena itu,marilah kita bangun sifat tersebut di hati kita agar hidup ini lebih merasa lapang dan nyaman. Saya teringat,nasehat sahabat saya di suatu hari…

“Kecintaanmu bukan untuk benda ataupun makhluk, tapi hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'alla Jangan biarkan Allah ‘merasa’ kau tinggalkan gara-gara ketidakikhlasanmu…”

Subhanallah,begitu mengena di hati ini walaupun kalimat itu sederhana akan tetapi makna nya sangat luar biasa. Semoga kita senantiasa meningkatkan amal ibadah kita di hari Jum’at-Jum’at berikutnya,dan jadikan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin seolah-olah di hari esok kita telah tiada.

Wallahuwaliyuttaufiq… Sahabat Saudaraku fillah...

Banyak yang mengatakan bahwa hari Jum’at merupakan hari istimewa bagi ummat Islam. Karena di hari Jum’at tersebut banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah apalagi tentang penciptaan alam ini. Sehingga kenapa, hari Jum’at begitu istimewa. Dan itulah sebabnya,mengapa setiap hari Jum’at setiap muslim di wajibkan untuk melaksanakan sholat Jum’at,salah satu point dari hikmahnya adalah untuk me-recharge kembali segala amal dan ibadah di hari tersebut.

Bahkan,Qur’an pun terdapat surat Al-jum’ah. Yang pada salah satu ayatnya terdapat perintah untuk melaksanakan Sholat Jum’at tersebut. Dan tak henti-hentinya di setiap khutbah yang di dengarkan,sang khatib selalu memberikan wasiat-wasiatnya yang sangat berharga. Apakah itu?Wasiat untuk selalu bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'alla dengan sebenar-benarnya taqwa,melaksanakan amal ma’ruf nahi munkar, agar predikat muttaqin dapat di raih. Untuk mendapatkannya pun butuh proses yang tidak sebentar. Harus banyak melewati onak dan duri,karena itulah hakikatnya menjadi seorang mukmin, ujian yang datang kepada kita merupakan sebuah proses demi masa depan yang memang kita tidak tahu bagaimana terjadinya. Akan tetapi,sejak saat inilah kita persiapakan semua dengan sebaik-baiknya persiapan.

Kesabaran dan Keikhlasan sangat berhubungan erat antar keduanya, oleh karena itu,marilah kita bangun sifat tersebut di hati kita agar hidup ini lebih merasa lapang dan nyaman. Saya teringat,nasehat sahabat saya di suatu hari…

“Kecintaanmu bukan untuk benda ataupun makhluk, tapi hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'alla Jangan biarkan Allah ‘merasa’ kau tinggalkan gara-gara ketidakikhlasanmu…”

Subhanallah,begitu mengena di hati ini walaupun kalimat itu sederhana akan tetapi makna nya sangat luar biasa. Semoga kita senantiasa meningkatkan amal ibadah kita di hari Jum’at-Jum’at berikutnya,dan jadikan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin seolah-olah di hari esok kita telah tiada.

Wallahuwaliyuttaufiq…

Kamis, 22 Oktober 2015

Menghias Hati Dengan Menangis

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh :)

Sahabat...

“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Foto Ilustration
Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain. Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah subhanahu wa ta'ala. 

Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain.
Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” 

Sahabat saudaraku fillah...Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi. Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan. 

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung.

Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahawa kita begitu hina di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain. Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolahkan kita. Kerana itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. 
Kita begitu faqir di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala.

Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17:

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa syurga tak akan dapat masuk hanya dengan amal yang sedikit. 

Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah Subhanahu wa ta'ala. akan memasukkan kita kedalam syurga. Fikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahawa, para generasi zaman sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk syurga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah. Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram, soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga. 

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. 

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat'.

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih.

Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: syurga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya. Seperti apa siksa neraka, Rasulullah Sallallahu`alaihi wasallam. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan.

“Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat saudaraku fillah...belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. 

Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.


Wallahu a'lam bish showwab. :)
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com